Thursday, January 26, 2006

SEPAKAT DALAM PERBEDAAN

SEPAKAT DALAM PERBEDAAN

Oleh I. Umbu Rey

Tanggal 23 Desember 2005 yang lalu adalah hari pertama bagi Ombudsman untuk memberikan pemaparan tentang bahasa Indonesia dan jurnalistik kepada para Kared dan para wartawan ANTARA. Acara itu agak sedikit molor waktunya dari yang ditetapkan karena begitulah biasanya bangsa kita ini sejak zaman dulu. Tidak pernah tepat waktu untuk memulai suatu acara.
Saya sudah berulang-ulang mengadakan diskusi internal membahas bahasa Indonesia dengan mengundang para wartawan tetapi hanya ada dua atau tiga orang saja yang menaruh perhatian pada diskusi itu.
Seminar Bahasa dalam rangka Bulan Bahasa yang kita selenggarakan bersama Pusat Bahasa dalam bulan Oktober tiap tahun juga tak dihadari wartawan ANTARA. Yang aktif malah utusan dari media massa dan para guru yang merasa bertanggung jawab pada perkembangan Bahasa Indonesia.
Akhirnya saya lebih aktif berdiskusi dengan rekan-rekan wartawan senior dari berbagai surat kabar Ibukota dalam Forum Bahasa Media Massa (FBMM). Dalam forum itu saya dapat mengambil banyak manfaat dari pengetahuan dan pengalaman yang diberikan oleh wartawan-wartawan senior itu.
Diskusi pertama Ombudsman itu akhirnya berjalan juga meski waktu yang tersedia terbuang setengahnya. Diskusi itu diwarnai sedikit pertengkaran antara anggota Ombudsman (Sdr Mulyo) dan Kared Olahraga (Irmanto).
Salah paham itu biasa dalam suatu diskusi. Suara keras dan bising mempertahankan argumen masing-masing itu lumrah. Ada yang merasa tidak puas sementara peserta lain mendesak agar keputusan bukan ditentukan oleh anggota Ombudsman. ”Voting saja!” begitu teriak yang lain. Di luar ruangan banyak yang jengkel karena suara-suara dari dalam terlalu keras sehingga mengganggu konsentrasi.
Saya agak kecewa karena pertengkaran dalam diskusi itu terjadi antara orang yang saya anggap senior di depan para wartawan muda. Ada sikap tidak percaya kepada yang lain sebab merasa lebih hebat, dan ketika tolok banding dikemukakan maka yang seorang merasa dianggap remeh. Terjadilah pertengkaran itu.
Sebenarnya saya sudah menyusun lima buah artikel dari lima judul untuk dibahas secara acak dan menyeluruh. Semuanya adalah ulasan dan kritik saya terhadap berita-berita yang telah disiarkan lewat VSAT oleh wartawan ANTARA. Tetapi, ada satu lagi lembaran tambahan mengenai daftar kata-kata dan istilah yang saya susun berdasarkan Nota Dinas dari Pemimpin Umum, Pak Asro.
Pak Asro meminta Ombudsman melalui Nota Dinas No. 517/ND/Ditsi/XII/2005 untuk menyusun daftar mengenai istilah, nama narasumber, singkatan dan sebagainya yang telah dibakukan agar dapat dijadikan pedoman dalam pemberitaan. Pak Asro melihat Kantor Berita ANTARA masih belum seragam dalam penulisan istilah dalam berita yang telah disiarkan sehingga menimbulkan kesalahan penulisan, dan pemahaman yang berbeda-beda.
Saya menyusun daftar istilah itu sebagai tugas, dan bukan untuk didiskusikan dalam rapat Ombudsman. Istilah itu pun saya ambil dari cara penulisan yang semrawut bahkan sembrono dari wartawan pusat dan daerah, lalu saya tentukan istilah yang baku menurut standar yang telah ditetapkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Itu sebabnya daftar itu tak perlu lagi diperdebatkan.
Berhubung kita menghadapi perayaan Natal dan Iduladha dan keberangkatan jemaah haji Indonesia ke tanah suci Mekkah, maka daftar istilah itu saya mulai dari istilah-istilah agama yang ditulis secara tidak seragam. Bak gayung bersambut, diskusi pun ramai.
Saya mengawali pembicaraan dengan pernyataan terus terang, bahwa istilah-istilah agama yang banyak diserap dari bahasa Arab itu tidak akan saya kupas dari akar katanya karena saya tidak paham bahasa Arab dan tidak pula mengetahui huruf Arab. Istilah-istilah yang saya kemukakan adalah baku berdasarkan standar yang ditetapkan Pusat Bahasa.
Rupa-rupanya dari situlah pertikaian itu terjadi. Tampaknya para wartawan di kantor berita ini lebih senang omong perbedaan daripada omong soal seragam.
Banyak di antara yang hadir menghendaki agar kata yang sudah dikenal itu dipakai saja, tidak perlu lagi diubah-ubah. Toh, semua orang juga sudah tahu, sudah mengerti. Yang lain bilang, yang sudah ada di kamus, ikuti saja. Tetapi yang lain lagi membantah dan mengatakan bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) itu banyak salahnya dan karena itu jangan dijadikan acuan.
Ketika saya menyarankan agar kita menggunakan kata "salat", orang lain dengan suara keras menolak, Bukan salat, tetapi yang benar "sholat". Kata dari bahasa Arab yang benar memang begitu, katanya. Yang seorang lagi maju ke depan lalu menulis dengan bahasa Arab.
Di luar forum diskusi itu, Wapempelred Ekonomi Nanang Sunarto berkata, “Kan dalam kamus kata-kata itu juga ada. Berarti boleh dong dipakai.” Sebenarnya bukan perkara ada atau tidak dalam KBBI. Juga bukan persoalan salah dan benar. Yang kita cari adalah kesepakatan untuk seragam dalam penulisan istilah-istilah itu. Saya pun tak pernah mengatakan bahwa pendapat para hadirin itu salah.
Sayangnya, tak banyak di antara kita yang teliti membuka kamus, dan banyak yang tidak mengetahui bagaimana caranya memeriksa kamus KBBI. Kamus bahasa itu sifatnya merekam sebuah kata dan maknanya yang terus-menerus diucapkan orang. Kata-kata yang lazim kita ucapkan setiap hari, meskipun salah, tercatat pula dalam kamus tetapi diberi tanda yang membedakan kata baku dan kata-kata percakapan.
Kata "memble" dan "kece" yang pernah populer tahun 1980-an itu pun sudah terekam dalam kamus. Kata-kata itu terus-menerus diucapkan orang “He, memble, lu!” Atau, kalau seseorang hendak memuji atau menyindir, dia berkata,“Kece nih ye..!” Istilah itu pun sudah tercatat dalam KBBI edisi ketiga, tetapi dengan pengertian bahasa percakapan (cak) yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan “slang”.
Kata-kata “rubah” dan “roboh” serta “kecik” itu semuanya juga tercatat, dan boleh disebut benar dalam pengertian bahasa lisan atau percakapan. Kata “rubah” yang pertama berarti binatang sejenis anjing. Kata “rubah” yang kedua tidak mempunyai arti tetapi diberi tanda anak panah yang mengacu pada kata “ubah”. Artinya yang dianjurkan pemakaiannya adalah “ubah” dalam pengertian berubah, menjadi lain dari semula.
Demikian juga kata “roboh” dan “kecik” itu walaupun biasa dipakai dalam percakapan, di dalam kamus tidak diberi arti. Kata “roboh” mengacu pada kata “rubuh” dan kata “kecik” itu sebaiknya kita gunakan “kecil”.
Lantas, mengapa “shalat” dan “sholat’ itu sebaiknya tidak kita gunakan? Karena kedua kata itu tidak tercatat dalam kamus. Mengapa tidak tercatat, karena bahasa Indonesia tidak mengenal konsonan ganda “sh”. Kata itu kita serap dari bahasa Arab dengan lafal “s”. Karena itu, “shalat” itu tercatat dalam kamus dengan kata “salat”. Itulah yang seharusnya kita gunakan.
Keseragaman istilah itu berbeda dari pengertian “diksi”. Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras dalam sebuah konteks kalimat agar diperoleh efek yang diharapkan. Dalam pengertian diksi, kata“benar” dan “betul” itu bersinonim dan karena itu dapat saling menggantikan. Tetapi dalam konteks tertentu kata-kata itu sudah berbeda pengertiannya. Kita dapat membetulkan sepeda yang rusak, tetapi kata “membetulkan” itu tidak dapat digantikan dengan membenarkan sepeda yang rusak.
Kata “sholat” dan “shalat” atau kata “roboh” dan “rubuh” itu bukanlah persoalan diksi. Kata-kata itu harus kita sepakati cara penulisannya menjadi “salat” dan “rubuh”. Demikian pun kita sepakati kata “Alquran” dan bukan Alqur’an atau Al Quran.
Pusat Bahasa menetapkan bulan Oktober setiap tahun sebagai Bulan Bahasa. Tiap tahun ANTARA bekerjasama dengan Pusat Bahasa menyelenggarakan seminar atau diskusi bahasa untuk membahas berbagai hal yang menyangkut perkembangan bahasa Indonesia.
Saya ikut menjadi pemakalah atau pembahas dan moderator dalam diskusi itu. Demikian juga Mulyo, Kusaini, dan Boyke Soekapdjo. Tujuannya adalah agar perkembangan bahasa kita tetap berjalan teratur menurut kaidah yang telah ditetapkan, dan supaya kita sepakat bahwa bahasa Indonesia akan tetap menyatukan bangsa ini.
Saya pernah bertanya kepada Prof. Dr. Anton M. Muliono –mantan kepala Pusat Bahasa—mengapa beliau mau mengadakan klinik bahasa setiap minggu di kantor berita ini antara tahun 1996 hingga 1988. Pak Anton berkata bahwa kantor berita ini adalah sarana paling tepat dan strategis untuk menyebarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada setiap orang di seluruh negeri ini.
Pak Anton berkata Pusat Bahasa tidak memilih media lain semisal Kompas dalam kerjasama pengembangan bahasa bukan karena wartawannya sudah pintar semua. Dia lebih memilih ANTARA karena kantor berita ini adalah milik negara yang paling dipercaya untuk menyebarkan bahasa Indonesia yang benar. Jaringan kantor berita ini pun dianggap paling luas dalam menyebarkan informasi. Di luar negeri, kantor berita inilah yang paling dipercaya baik dari segi pemberitaan maupun dalam bahasa Indonesia yang disebarkannya.
Di Australia, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa kedua yang wajib dipelajari di sekolah-sekolah dasar, sampai perguruan tinggi. Berita dalam bahasa Indonesia yang disiarkan ANTARA juga mereka gunakan sebagai acuan untuk mereka mempelajari bahasa kita.
Itu sebabnya setiap kali sebuah istilah saya tetapkan, saya selalu mengambil acuan dari Pusat Bahasa, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Saya harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan Pusat Bahasa dan bukan istilah yang ditetapkan oleh subjektivitas kepala redaksi atau wartawan tertentu.
Dalam pandangan saya, setiap orang memang berbeda. Ada nuansa antara wartawan yang satu dengan yang lain ketika mereka menulis berita atau karkhas. Sepanjang tidak keluar atau menyimpang dari kebijakan yang telah ditetapkan dalam pedoman langgam, perbedaan seperti itu memang diperlukan dan bahkan harus ada karena di situlah jati diri wartawan itu ditunjukkan.
Seragam atau keseragaman adalah kesepakatan yang digariskan oleh pedoman langgam berdasarkan kebijakan pemberitaan supaya tujuan atau visi kantor berita ini tercapai. Keseragaman itu berarti perihal seragam atau keadaan seragam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI hal. 920) kata “ragam” diberi arti bersatu hati, rukun.
Waktu tanah Nusantara ini belum lagi berbentuk republik, kita terpecah-pecah dalam perbedaan. Beda dalam segala macam segi, daerah, suku, bangsa, bahasa, dan juga agama dan adat istiadat. Karena itu kita mudah dipecah-pecahkan dan bahkan diadu domba. Itu sebabnya Belanda gampang menjajah Nusantara.
Nenek moyang kita yang hidup pada awal abad 20 dan sudah cerdas pandai dalam ilmu pengetahuan lalu bersepakat bahwa bangsa ini memang harus seragam, artinya bersatu hati, dan rukun serta damai. Pada 28 Oktober 1928 mereka (pemoeda dan pemoedi ketika itu) mengangkat sumpah supaya sepakat dalam tiga hal yang sudah kita hafal, yakni bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia.
Di bawah kaki lambang negara Burung Garuda ada tertera kalimat yang sangat populer, Bhinneka Tunggal Ika, yakni berbeda-beda tetapi satu. Dengan perkataan lain, sepakat dalam perbedaan. Ini semboyan bukan sembarang semboyan. Amerika Serikat, negara adikuasa itu juga mirip benar dengan kita. Banyak perbedaan tetapi mereka sepakat untuk seragam dalam perbedaan, dan karena itu mereka maju.
Dalam kantor berita ini semboyan itu sebenarnya juga berlaku. Kita masuk ke lembaga ini dengan latar belakang yang berbeda. Tingkat pendidikan beda, gelar beda, ilmu pengetahuan beda, universitas beda, jurusan beda, wawasan beda, pengalaman beda (ada yang nol pengalaman), suku beda, adat kebiasaan beda, bahasa-daerah beda, dialek beda, dan agama pun beda.
Ketika kita masuk menjadi wartawan ANTARA, kita menjadi seragam dalam visi dan misi, maka kita gunakan kata dan istilah yang sama untuk pengertian yang sama pula. Ibarat tubuh, kita mejadi satu tubuh, satu jiwa. Tak mungkin tangan bergerak tanpa perintah otak, demikian pun tanpa arahan mata, kaki akan salah melangkah.
Kita hidup dalam satu tubuh, makan dari gaji yang diterima dari lembaga yang sama, berkarya dalam tugas yang sama, bertindak dan melangkah menuju arah yang sama, lalu menulis dengan tujuan yang sama pula. Kita seiring sejalan seriak segelombang senada dan seirama meskipun kita punya latar belakang yang berbeda-beda.
Saya orang NTT kebetulan punya wajah kurang menarik dan berwatak keras, suara juga nyaring sampai kadang-kadang mengganggu konsentrasi orang lain. Anda orang dari bagian barat, punya wajah menarik dan kulit terang. Punya sikap santun dan bicara dengan nada rendah sampai kadang-kadang tidak terdengar. Yang lain tukang tidur sampai ngoroknya juga mengganggu orang sekitar. Itu semua perbedaan. Tetapi setiap orang harus saling mengerti karena perbedaan itu ternyata indah.
Kita sepakat dalam perbedaan.

Jakarta, 27/12/2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home